Diseminasi Pengembangan Budidaya dan Pengolahan Produk dari Lalat Tentara Hitam di Kampung Cibeusi dengan Menggunakan Konsep Biorefinery

oleh : Bagoes Inderaja, Nurhayati Br Tarigan, M. Yusuf Abduh

Desa Cibeusi adalah desa yang sangat berpotensi untuk dikembangkan dari segi sumber daya hayati mengingat bahwa sebagian besar penduduknya bekerja sebagai petani. Pada hari Minggu, 8 Oktober 2017, Biorefinery Society (BIOS) mengadakan kegiatan sosialisasi penelitian bersama Kelompok keahlian Agroteknologi dan Teknologi Bioproduk (KK-ATB) ITB. Kegiatan ini merupakan langkah awal yang dilakukan oleh BIOS untuk dapat meningkatkan pemanfaatan sumber daya hayati yang lebih optimal dengan melibatkan masyarakat sebagai elemen utama.

Kegiatan sosialisasi yang diadakan di Kampung Cibeusi, Jatinangor, Kecamatan Sumedang, Jawa Barat ini dihadiri oleh warga Cibeusi, mahasiswa Sekolah Ilmu dan Teknologi Hayati (SITH) ITB, perwakilan Himpunan Mahasiswa Rekayasa Hayati (HMRH) ITB dan Komunitas Pemuda Desa Cibeusi. Iwan Solihin, selaku Ketua RT 1 Desa Cibeusi memberi kata sambutan sebagai pembuka acara, lalu diikuti oleh sambutan dari perwakilan KK-ATB ITB, Dr. M. Yusuf Abduh. “Kegiatan ini merupakan awal silaturahmi dari pihak akademisi kepada warga Desa Cibeusi, sehingga kedepannya ketika kita sudah saling mengenal akan lebih mudah bagi kita untuk bekerja sama”, ujar Yusuf.

Sambutan dari Ketua RT 1 Desa CIbeusi

Sambutan dari Dr. M. Yusuf Abduh sebagai perwakilan KK ATB

Inti kegiatan ini adalah pemaparan mengenai Black Soldier Fly (BSF), mulai dari tahap budidaya hingga tahap produksi. Pemaparan dilakukan oleh Nurhayati Br Tarigan, Asri Ifani, dan Bagoes M Inderaja sebagai perwakilan dari pihak KK-ATB. Nurhayati membuka ceritanya dengan menunjukkan BSF dan menjelaskan apa yang membuat lalat ini spesial. “Lalat (Tentara Hitam) bukan seperti lalat pada umumnya karena BSF tidak menyebarkan kuman penyakit melainkan dapat menjadi sumber protein yang dapat dimanfaatkan oleh masyarakat sebagai sumber pakan”, tuturnya. Selain itu ia juga menceritakan proses kultivasi BSF mulai dari telur hingga menjadi lalat dewasa.

Asri Ifani melanjutkan pemaparan dengan melakukan demonstrasi pembuatan pakan ikan. Hal ini dilakukan untuk memberikan gambaran kepada masyarakat bagaimana pemanfaatan BSFL secara nyata dikehidupan sehari-hari. Pemaparan diakhiri dengan presentasi rancangan sarang kultivasi BSFL yang terintegrasi oleh Bagoes. Rancangan sarang tersebut mengintegrasikan budidaya larva dan telur BSF. Adapun produk-produk yang dapat dihasilkan oleh rancangan sarang tersebut adalah pupuk organik, pupuk cair, larva, serta telur. Sesi pemaparan mengundang antusiasme warga untuk bertanya mengenai topik yang telah dipaparkan. Aspek kebermanfaatan ekonomi menjadi topik utama yang ditanyakan oleh warga.

Demonstrasi pembuatan pakan dari tepung prepupa BSFoleh Nurhayati (kiri) dan Asri Ifani (kanan)

Pemaparan rancangan kultivasi BSF oleh Bagoes

Penutupan acara ditandai dengan pemberian bingkisan oleh perwakilan KK-ATB ITB kepada Ketua Lembaga Masyarakat Desa dan Hutan (LMDH), Bapak Supriyadin yang dilanjutkan oleh pembacaan doa oleh Bapak Abung. Cita-cita dan impian BIOS tersirat pada sebentuk doa yang dipanjatkan di akhir kegiatan. Sesi makan siang bersama dilakukan sebagai media untuk saling mengenal dan bertukar pikiran. Kelakar dan canda tawa menambah kedekatan dan kehangatan dengan warga Kampung CIbeusi. Kegiatan ini diharapkan sebagai inisiasi Program BIOS-Cibeusi yang sedang dikembangkan oleh BIOS. Diharapkan kegiatan ini dapat membantu masyarakat Kampung Cibeusi dapat mengoptimalkan sumber daya alam yang ada sehingga dapat meningkatkan kesejahteraan masyarakat di Cibeusi.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *