Road to Cibeusi II : Kopi, Lebah dan Lalat Tentara Hitam

Biorefinery Society (BIOS) bekerjasama dengan Kelompok Keahlian Agroteknologi dan Teknologi Bioproduk (KK-ATB) ITB, Himpunan Mahasiswa Rekayasa Hayati (HMRH) ITB dan unit U-Green ITB mengadakan kegiatan Road to Cibeusi (RTC) II di Desa Cibeusi pada hari Minggu, 26 November 2017. Program ini bertujuan untuk membawa produk hasil riset dari Kampus Jatinangor ke masyarakat dan merupakan program lanjutan Road to Cibeusi (RTC) I, yang telah dilakukan lebih dari satu bulan sebelumnya.

Kata sambutan oleh Sopandi, perwakilan warga Desa Cibeusi dan Dr. M. Yusuf Abduh, perwakilan KK ATB ITB menandai pembukaan acara. Pemaparan pertama dilakukan oleh tim riset tetragonula yang diwakili oleh Abdurrahman Adam, Bagoes Muhammad Inderaja, dan Lina Oktaviani. Tim riset tetragonula memaparkan hasil riset propolis-kopi yang telah dilakukan selama empat bulan di Desa Cibeusi. Bagoes membuka pemaparan dengan menjelaskan apa yang mendorong tim melakukan peneltian di Desa CIbeusi. “Desa ini memiliki potensi sumber nektar yang berlimpah, salah satunya dari tanaman kopi yang dibudidaya oleh warga”, tuturnya. Selanjutnya, tim riset menunjukan replika sarang MoTiVe yang ditaruh di rumah warga serta manfaatnya.

Pemaparan mengenai hasil riset propolis-kopi oleh Lina Oktaviani, Abdurrahman Adam dan Lina Oktaviani (dari kiri ke kanan)

Adam menunjukkan sarang lebah dari bambu kepada warga Kampung CIbeusi

Koloni lebah tertagonula dalam sarang MoTiVe

Dr. Rijanti Rahaju Maulani memberikan wawasan mengenai teknologi pengolahan kopi dimulai dari penjemuran hingga pengupasan kulit ceri untuk mendapatkan kopi kualitas terbaik. “Penjemuran ceri kopi sebaiknya tidak dilakukan dibawah cahaya matahari langsung”, tuturnya. Beliau menambahkan, “Kadar gula yang terdapat pada kulit ceri merupakan kunci utama untuk menghasilkan kopi madu atau honey coffee. Pemaparan diakhiri dengan dengan demonstrasi pembuatan teh kulit ceri kopi atau disebut juga dengan teh  Cascara yang diwakili oleh Anugerah Fajar dan Naufal Hakim. Antusiasme warga terlihat  saat sesi pertanyaan mengenai keseluruhan topik pemaparan. Aspek teknis menjadi topik utama yang warga tanyakan.

Penjelasan mengenai teknologi pengolahan kopi oleh Dr. Rijanti Rahaju Maulani

Pembutan teh Cascara oleh Naufal Hakim dan Anugerah Fajar (dari kiri ke kanan)

Setelah pemaparan tentang kopi selesai dilakukan, tim riset lalat tentara hitam menindaklanjuti hasil pemaparan mengenai lalat tentara hitam yang telah dilakukan pada tangga 8 Oktober 2017 lalu. Nurhayati, Asri Ifani dan M. Firmansyah memaparkan bahwa mereka telah berhasil membuat pakan ikan dan pupuk organik dari hasil budidaya lalat tentara hitam sebelumnya. Pada kesempatan tersebut, mereka membagikan produk yang telah dibuat kepada warga Kampung Cibeusi. Pupuk organik yang diberikan diharapkan dapat dimanfaatkan untuk lahan pertanian di kampung tersebut. Oleh karena itu, dilakukan pula penyerahan bibik kopi dan bibit karet kebo yang nantinya akan ditanam di kampung tersebut menggunakan pupuk organik yang telah diberikan.

Pakan ikan, pupuk cair organik dan pupuk padat organik hasil budidaya lalat tentara hitam

Tak lupa, tim KK-ATB membuat buku mengenai konsep biorefinery yang telah dilakukan dari hasil riset dan pengabdian masyarakat. Buku ini kemudian dibagikan kepada perwakilan warga Kampung Cibeusi. Buku ini diharapkan dapat memberi pengetahuan baru kepada masyarakat untuk mengembangkan potensi desanya dengan menggunakan konsep biorefinery.

Penyerahan buku mengenai biorefinery oleh Dr. M. Yusuf Abduh sebagai perwakilan KK ATB kepada perwakilan warga Kampung Cibeusi

Acara ditutup dengan penyerahan 5 bibit kopi, 1 bibit karet kebo, 50 kg pupuk organik, 10 L pupuk cair dan 100 kantung teh kulit ceri kopi. Hal ini diharapkan dapat menginspirasi warga Desa Cibeusi untuk menerapkan wawasan yang telah diberikan sehingga menghasilkan produk bermanfaat. Biorefinery Society siap membimbing warga Desa Cibeusi untuk meningkatkan kualitas hidup melalui penerapan teknologi hayati.

Penyerahan teh cascara oleh Bagoes Inderaja kepada perwakilan warga Kampung Cibeusi

Penyerahan bibit kopi oleh Abdul Azis, mahasiswa Rekayasa Hayati, kepada perwakilan warga Kampung Cibeusi

 

One thought on “Road to Cibeusi II : Kopi, Lebah dan Lalat Tentara Hitam

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *