Dari Satu Menjadi Lima Puluh Empat Koloni Lebah Tetragonula

Kamis, 27 Oktober 2016 adalah momen ketika Yusuf Abduh dan Syaripudin, perwakilan Kelompok Keilmuan Agroteknologi dan Teknologi Bioproduk (KK ATB) ITB mengunjungi Desa Bangun Rejo, Sumatera Selatan untuk melakukan sosialisasi mengenai biji karet dan lebah tetragonula. Kegiatan yang telah dilakukan ini merupakan hasil kerja sama dengan STIE-Mura Lubuklinggau. Sosialisasi yang dilakukan ternyata bukan sekedar sosialisasi saja. Pihak STIE-Mura Lubuklinggau menindaklanjuti kegiatan sosialisasi yang telah dilakukan dengan menjadikan Desa Bangun Rejo sebagai desa binaan.

Setelah setahun berlalu, tepatnya pada tanggal 16 Desember 2017, STIE-Mura, KK ATB dan Biorefinery Society (BIOS) yang diwakili oleh Supriyanto, Dheo Rimbano, Yusuf Abduh, Nurhayati Br Tarigan, Bagoes M. Inderaja kembali berkunjung ke kelompok tani Suka Maju dari Desa Bangun Rejo. Pada kegiatan sosialisasi yang pernah dilakukan tahun lalu, satu koloni lebah dan sarang MOTIVE diserahkan ke masyarakat untuk dipelihara. Namun, koloni lebah tersebut kabur karena sarangnya terkena asap.

Pada kunjungan kali ini, Pak Amir sebagai anggota kelompok tani Suka Maju menceritakan apa saja yang telah mereka lakukan dalam hal budidaya lebah, apa kendalanya dana apa harapan ke depannya. Para anggota kelompok tani ini ternyata telah mencari ke hutan di sekitar kampung untuk mencari koloni lebah. Kini mereka telah memiliki sekitar lima puluh empat koloni lebah yang dicari dari pohon maupun tanah di sekitar kampung. Koloni yang telah ditemukan lalu dipindahkan ke sarang MOTIVE yang mereka buat sendiri.

Sarang koloni lebah tetragonula milik Kelompok Tani Suka Maju, Desa Bangun Rejo

Agar budidaya lebah kedepannya dapat dilakukan dengan baik, Yusuf Abduh sebagai perwakilan dari KK ATB menjelaskan beberapa faktor yang penting diperhatikan dalam budidaya lebah, seperti faktor lingkungan, waktu serta lokasi pemindahan koloni. Beliau juga menjelaskan bahwa dalam budidaya lebah, terdapat 3 produk yang dapat dijual, yaitu koloni, propolis dan madu.

Diskusi mengenai lebah tetragonula bersama Kelompok Tani Suka Maju, Desa Bangun Rejo

Setelah diskusi, dilakukan pengamatan sarang lebah yang telah didapatkan dan dipelihara. Kondisi alam di desa tersebut sepertinya sangat nyaman untuk hidup lebah tetragonula. Semangat anggota kelompok tani ini untuk maju sangat terlihat saat diskusi.

Mimpi besar dari kegiatan budidaya ini adalah dapat menjadikan Desa Bangun Rejo sebagai desa yang menerapkan konsep eduwisata, khususnya mengenai budidaya lebah. Jadi, ketika orang menyebut Desa Bangun Rejo, maka yang pertama terlintas di pikiran adalah ‘lebah’. Dalam hal ini, perlu dilakukan kerjasama yang selaras antara ketiga pihak, yaitu kelompok tani sebagai pembudidaya lebah, STIE-Mura sebagai penangungjawab untuk membentuk koperasi dalam rangka memasarkan produk yang dihasilkan, KK ATB dan BIOS yang sebagai tim ahli untuk dapat meningkatkan perolehan dan produktivitas  propolis dan madu tetragonula.

Foto bersama Kelompok Tani Suka Maju, Desa Bangun Rejo

One thought on “Dari Satu Menjadi Lima Puluh Empat Koloni Lebah Tetragonula

  1. Pingback: Road to South Sumatera II – Biorefinery Society

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *