Sehari Bersama Pak Rizaldi di Kecamatan Pangkalan Baru

Sosialisasi budidaya lebah tetragonula di Desa Belilik, Kecamatan Namang, Bangka

Kota Bangka merupakan tujuan terakhir perjalanan tim Biorefinery Society (BIOS) di Sumatera Selatan. Pada hari Minggu, 17 Desember 2017, tim BIOS
mendarat di Bandara Udara Depati Amir untuk melakukan kunjungan sekaligus sosialisasi budidaya lebah tetragonula. Hari itu dibuka dengan sosialisasi yang dilaksanakan di Kantor Kepala Desa Belilik, Kecamatan Namang, Bangka.

Sosialisasi dan Kunjungan Lapangan
Acara sosialisasi dihadiri oleh kurang lebih tiga puluh warga yang berasal dari beragam latar belakang mulai dari petani, peternak, penyuluh, hingga ibu rumah tangga. Tepat pukul 10.00 WIB acara dibuka dengan kata sambutan dari Bapak Rizaldi, Camat Pangkalan Baru, Kota Pangkal Pinang. Beliau menyampaikan apresiasi kepada tim yang sudah bersedia datang untuk memberikan sosialisasi kepada warga Desa Belilik. “Bapak Yusuf dan Bagoes ini sudah datang jauh-jauh dari Bandung, ayo kita ambil ilmu dan wawasan yang berharga” ujarnya untuk meningkatkan antusiasme warga. Pemaparan dilakukan oleh Dr. M. Yusuf Abduh diikuti oleh Bagoes M. Inderaja.

Pemaparan pertama oleh Yusuf membahas integrasi perkebunan karet dengan lebah tetragonula, lalat tentara hitam, dan produksi biodiesel secara singkat. Beliau berkata, “Bapak dan ibu bisa lihat berapa banyak produk yang dapat dihasilkan dari satu perkebunan karet apabila diintegrasikan dengan sistem produksi lainnya”. Pemaparan dilanjutkan ke materi budidaya lebah tetragonula dan lalat tentara hitam oleh Bagoes. Kedua materi dipaparkan mulai dari budidaya hingga menghasilkan produk. Antusiasme warga terlihat pada saat sesi tanya jawab dilaksanakan. Acara ditutup oleh foto bersama dan penyerahan sarang lebah MOTIVE dan produk propolis oleh BIOS kepada Pak Danil, salah satu pembudidaya lebah tertragonula di Desa Belilik.

Yusuf Abduh menyerahkan sarang lebah MOTIVE dan produk propolis kepada warga Desa Belilik yang diwakili oleh Pak Danil

Kegiatan hari tersebut dilanjutkan dengan kunjungan tim BIOS ke tempat budidaya lebah tanpa sengat rintisan Bapak Rizaldi berserta Danil dan Miftah di Desa Belilik. Saat ini, mereka sudah merintis usaha budidaya sekitar seratus koloni lebah tanpa sengat dengan spesies yang beragam. Tim BIOS diminta saran dan rekomendasi terhadap kegiatan budidaya tersebut. “Lebah disini sering kabur dikarenakan suhu yang terlalu panas” ujar Danil. Produk hasil lebah sendiri sudah tidak asing di kalangan warga Bangka. Hal ini dikarenakan Bangka terkenal dengan produk khas madu pelawan yang berkhasiat baik untuk kesehatan.

Kondisi lapangan budidaya lebah tanpa sengat di Desa Belilik

Selain kunjungan ke lokasi budidaya lebah di desa Belilik, Bapak Rizaldi kemudian mengajak tim BIOS mengunjungi perkebunan lada miliknya yang berencana ia integrasikan dengan budidaya lebah tanpa sengat. “Selain membantu penyerbukan lada, budidaya lebah tanpa sengat juga diharapkan menjadi objek utama eduwisata” ujarnya. Kunjungan lapangan hari itu diakhiri dengan melihat kebun produksi lada milik salah satu perusahaan besar yang berpotensi untuk diintegrasikan dengan budidaya lebah tetragonula.

Sejuta Harapan di Pulau Bangka

Saat matahari sudah mulai tinggi, tim BIOS diajak berehat sejenak sambil menikmati santapan sang bersama Pak Rosa yang merupakan salah satu penggiat produk lebah serta teman Bapak Rizaldi. Disela-sela jamuan makan siang, terjadi obrolan yang mengugah hati. Topik yang dibicarakan seputar kebiasaan hidup warga Bangka. “Secara tidak langsung, bisnis tambang timah membentuk pola pikir dan hidup masyarakat Bangka” ujar Pak Rosa. “Pola pikir dan hidup masyarakat Bangka sudah terbiasa instan, tidak menghargai proses” tambah Pak Rizaldi. Menurut mereka, warga Bangka saat ini sedang mengalami masa-masa sulit dikarenakan oleh penurunan produksi tambang timah milik warga.

Potensi alam Bangka sangat besar di sektor pertanian dan pariwisata belum bisa dimanfaatkan karena pola pikir warga yang serba instan. Untuk itu, Pak Rizaldi dan Rosa sangat ingin menjadi pembawa perubahan dengan cara memanfaatkan potensi sumber alam daya yang ada. “Dengan berhasil memanfaatkan dan menjadi contoh, harapannya banyak warga yang mau mengikuti” ujar Pak Rizaldi. Kedua orang tersebut sama sama memimpikan Bangka yang lebih maju bagi generasi selanjutnya. Ketulusan niat mereka telah menginspirasi tim BIOS untuk melakukan pengembangan lanjutan di Pulau Bangka. Hari itu ditutup dengan kepulangan tim BIOS kembali ke Bandung.

 

Kunjungan ke kantor kecamatan Pangkalan Baru, Bangka. (dari kiri) M. Yusuf Abduh, Rizaldi, Bagoes M. Inderaja

Untuk apa hidup jika tidak ada dampaknya kepada lingkungan” – Pak Rizaldi.

Agar kita maju dan terdepan, kita harus mengangkat orang-orang yang berada di bawah kita” – Pak Rosa.

Kami percaya pada sejuta potensi dan harapan di Pulau Bangka.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *