PENINGKATAN HARGA JUAL KOPI, SESEDERHANA MEMISAHKAN KULIT DAN BIJI

Belakangan ini trend kopi mulai meningkat. Hal ini dapat dilihat dari mulai banyaknya coffee shop yang muncul di kalangan masyarakat, khususnya daerah perkotaan. Sebanyak 2-3 sendok makan bubuk kopi dapat diekstrak dan diolah menjadi secangkir kopi dan dijual hingga Rp 15.000/cangkir di cafe atau bahkan lebih. Tapi, berapa sebenarnya petani kopi menjual kopinya per kg?

Cibeusi adalah salah satu kampung di Kabupaten Bandung, Jawa Barat yang menjadi sentra penghasil kopi. Dengan total 23 hektar lahan kopi, masyarakat disini mampung mengasilkan sekitar 230 kg ceri kopi/hektar. Namun, fakta yang sangat disayangkan adalah kopi di kampung ini langsung dijual kepada perantara dalam bentuk ceri utuh seharga Rp 6.000 – Rp 7.000/kg. Padahal, hal sederhana seperti pemisaahan kulit dan biji kopi mampu meningkatkan pendapatan petani kopi hingga 4-6 kali. Belum lagi jika dilakukan peningkatan dari segi budidaya, pasca panen, pengemasan serta pengolahan kulit kopi menjadi produk olahan lainnya.

Namun, semua itu masih belum dapat dilakukan oleh masyarakat di Kampung Cibeusi, salah satunya karena keterbatasan alat. Pemisahan antara kulit dan biji, biasanya dilakukan dengan mesin depulper. Oleh karena itu, kerjasama antara BIOS dengan KK ATB dan HMRH merupakan suatu kekuatan yang lengkap untuk menjawab tantangan ini. BIOS sebagai sebuah sociopreneur start-up memandang bahwa valorisasi biji kopi di Kampung Cibeusi sejalan dengan visi dan misi BIOS. Selain itu, KK ATB juga memiliki kekuatan dari segi pengetahuan dan pengalaman di bidang kopi mengingat bahwa salah satu keahlian yang dimiliki dosen KK ATB adalah pasca panen, termasuk kopi. HMRH sebagai himpunan yang sudah lama berkelana di Kampung Cibeusi juga memiliki kekuatan tersendiri untuk mewujudkan mimpi petani kopi agar lebih bahagia.

Ceri kopi Kampung Cibeusi

Biji dan kulit kopi Kampung Cibeusi

Pada kegiatan Road to Cibeusi 2 (RTC 2) pada November 2017 lalu, BIOS dan KK ATB telah melakukan diseminasi mengenai teknologi pasca panen kopi di Kampung Cibeusi, seperti pemanenan, pengeringan, hingga potensi pengolahan kulit kopi menjadi minuman herbal. Dr. Rijanti Rahaju Maulani, perwakilan KK ATB memberitahukan juga trik untuk menghasilkan varian kopi yang dikenal dengan honey coffee.

Agar apa yang telah disampaikan sebelumnya tidak berhenti di tahap sosialisasi saja, maka pada kesempatan kali ini (8 April 2018), BIOS kembali hadir ditengah-tengah masyarakat Cibeusi bersama dengan KK ATB dan HMRH untuk melakukan serah terima mesin depulper kepada masyarakat Cibeusi. Pada dasarnya cara menggunakan alat ini cukup mudah, yaitu dengan memasukkan ceri kopi ke dalam mesin yang telah dinyalakan, mata pisau pada mesin kemudian menggiling ceri kopi hingga akhirnya biji dan kulit kopi pun terpisah di sisi kanan dan kiri mesin.

Uji coba mesin depulper kopi

Kulit kopi yang keluar dari mesin depulper

Serah terima alat juga disertai dengan penandatanganan MoU antara pihak pertama (BIOS, KK ATB dan HMRH) dan pihak kedua (Warga Kampung Cibeusi dan Ketua RW). Keduanya pihak juga berkomitmen untuk bersama-sama melakukan hak dan kewajiban masing-masing dalam rangka memajukan potensi kopi di Kampung Cibeusi. Pak Dode, warga Kampung Cibeusi di RT I dipilih sebagai penanggungjawab alat deulper ini. Nantinya petani kopi disini dapat memanfaatkan alat depulper untuk mengolah kopi mereka dan bersama-sama merawat alat yang telah diserahkan.

Serah terima berkas MoU antara KK ATB, BIOS, HMRH, Warga Kampung Cibeusi dan Ketua RW (dari kiri ke kanan)

Pada kegiatan RTC 2 sebelumnya, BIOS berharap kegiatan tersebut tidak hanya berhenti sampai tahap sosialisasi saja. Kali ini juga sama, BIOS berharap kegiatan ini tidak berhenti sampai tahap serah terima alat saja. BIOS Bersama dengan KK ATB dan HMRH akan terus melakukan pendampingan dan pelatihan kepada petani kopi di Kampung Cibeusi mengenai kegiatan budidaya dan pasca panen kopi. Semoga ke depannya semakin banyak kegiatan positif yang dapat dilakukan bersama-sama sehingga dapat mewujudkan Cibeusi maju, sesuai dengan tagline kampung ini, yaitu “Cibeusi bersatu, Cibeusi maju”.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *