Penerapan konsep biorefinery untuk pengembangan bioindustri di Indonesia

Penulis: Yusuf Abduh

Indonesia merupakan sebuah negara yang kaya dengan potensi alam yang sangat luar biasa dan tingkat keanekaragaman hayati antara yang terbesar di dunia. Keanekaragaman tumbuhan di Indonesia bisa dilihat dari penyebaran flora di daerah hutan hujan tropis, daerah hutan musim, daerah sabana dan daerah stepa yang terdapat di Indonesia. Ciri-ciri hutan hujan tropis adalah kondisi lembab dan memiliki pohon yang heterogen seperti kemenyan dan rotan sedangkan daerah hutan musim adalah hutan musiman yang daunnya dapat gugur pada musim kemarau dan kembali hijau saat musim hujan seperti cemara dan jati. Sementara itu, daerah sabana adalah daerah padang rumput yang terdapat semak-semak dan pohon sedangkan daerah stepa adalah daerah yang hanya terdapat padang rumput sehingga cocok dimanfaatkan sebagai tempat beternak hewan herbivora.

Selain itu, Indonesia juga memiliki keanekaragaman hewan yang mencakup hewan asiatis di Indonesia barat, australisia di Indonesia timur, dan peralihan di Indonesia tengah. Hewan asiatis yang berada di Sumatera, Jawa, Kalimantan dan sekitarnya umumnya berukuran besar dan menyusui misalnya orang utan dan gajah. Hewan Australasia yang berada di kepulauan Mauluku dan Papua pula pada umumnya adalah hewan berukuran kecil misalnya landak dan burung cenderawasih. Sementara hewan zona peralihan yang berada di Sulawesi, NTB dan NTT memiliki kemiripan dengan hewan dari benua Asia dan Australia misalnya beruang dan komodo.

Sebagai negara kepulauan tersbesar di dunia, Indonesia juga memiliki garis pantai yang kedua terpanjang di dunia. Garis pantai alami ini menyebabkan adanya interaksi antara daratan dan lautan sehingga meningkatkan keanekaragaman hayati di Indonesia karena migrasi alami akan terus terjadi.  Selain itu, posisi geografis Indonesia yang dikelilingi oleh Cincin Api Pasifik menyebabkan Indonesia rawan bencana gempa dan letusan gunung berapi. Namun jalur Cincin Api Pasifik juga memberikan potensi energi tenaga bumi yang dapat digunakan sebagai sumber tenaga alternatif. Selain itu, debu akibat letusan gunung berapi dapat menyuburkan tanah sehingga dapat dikembangkan untuk kegiatan bioindustri.

Keanekaragaman hayati dan potensi sumber daya alam yang melimpah di Indonesia dapat dikelola dengan menggunakan pendekatan biorefinery untuk mengoptimalkan bahan baku, meminimalkan limbah serta memaksimalkan manfaat dan keuntungan yang diperoleh untuk memastikan pembangunan yang berkelanjutan. Pada sebuah sistem produksi yang menggunakan pendekatan biorefinery, umumnya akan terdapat banyak proses yang diintegrasikan untuk mengolah hampir keseluruhan komponen bahan baku menjadi berbagai bioproduk yang bermanfaat sehingga dapat menekan biaya produksi yang diperlukan oleh bioindustri terkait.

Salah satu contoh penerapan konsep biorefinery di bioindustri adalah sistem produksi minyak atsiri dari tanaman serai wangi yang terintegrasi dengan peternakan sapi. Daun serai wangi mengandung sekitar 1-2% minyak atsiri dan bisa dipisahkan dengan metode dstilasi uap. Dari 1000 kg daun serai wangi, akan dihasilkan sekitar 800-900 kg ampas serai wangi yang masih belum dimanfaatkan dengan baik. Dengan menggunakan pendekatan biorefinery, ampas tersebut masih bisa diolah lebih lanjut sebagai pakan sapi. Valorisasi ampas serai wangi sisa distilasi minyak atsiri sebagai campuran pakan sapi dapat mengurangi biaya input eksternal pakan sapi dan juga dapat meningkatkan produksi susu sapi. Kotoran sapi juga bisa diolah lebih lanjut untuk menghasilkan biogas yang dapat digunakan sebagai sumber energi proses distilasi minyak wangi sehingga dapat mengurangi input energi eksternal sehingga akhirnya bisa menekan biaya produksi minyak atsiri.

Perkebunan Serai Wangi di KP Manoko

Konsep biorefinery tidak hanya bisa diterapkan pada perkebunan serai wangi dan sapi tapi juga bisa diterapkan pada beragai komoditas yang lain misalnya kunyit, lemon, kopi, lebah, lalat tentara hitam dan banyak lagi-lagi. Konsep ini dapat diterapkan di seluruh penjuru nusantara, mulai dari Sabang sampai Merauke.  Berbagai sumber daya hayati yang terdapat di Indonesia seperti kemenyan dan rotan yang banyak terdapat di daerah hutan hujan tropis atau cemara dan jati di daerah hutan musim. Konsep biorefinery ini juga bisa diterapkan di daerah sabana yang terdapat banyak semak-semak dan pohon dan juga di daerah stepa yang terdapat banyak padang rumput untuk beternak kuda misalnya atau hewan herbivora yang lain.  Dengan menerapkan konsep biorefinery, keanekaragaman flora dan fauna yang melimpah di Indonesia dapat divalorisasi dengan sistematis sehingga dapat mengurangi limbah dan di saat yang bersamaan bisa menghasilkan berbagai bioproduk yang mempunyai nilai tambah.

Valorisasi sumber daya lokal untuk kebutuhan lokal tidak hanya dapat menggerakkan roda perekonomian warga di pedesaan tapi juga dapat mengurangi biaya transportasi dan logistik. Namun, salah satu hal yang perlu dipertimbangkan adalah skala keekonomian sistem produksi hayati atau bioindustri yang ingin dikembangkan. Keberhasilan penerapan konsep biorefinery untuk pengembangan bioindustri di Indonesia tentu perlu didikung oleh banyak pihak mulai dari petani, pemerintah dan juga pihak swasta. Perlu ada pihak yang saling menjembatani semua elemen masyarakat untuk duduk bersama dan bergotong-royong mengembangkan bioindustri berbasis sumber daya lokal. Harapnnya, penerapan konsep biorefinery ini dapat menoptimalkan keanekaragaman hayati dalam rangka pengembangan bioindustri di Indonesia yang berkelanjutan dan dapat meningkatkan kesejahteraan masyarakat.

Kata kunci: biorefinery, bioindustri, keanekaragaman hayati, berkelanjutan, Indonesia

One thought on “Penerapan konsep biorefinery untuk pengembangan bioindustri di Indonesia

  1. Pingback: Biorefinery: Konsep bagi Bioindustri Berkelanjutan - Biorefinery Society

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *