Biorefinery: Konsep bagi Bioindustri Berkelanjutan

Biorefinery (kilang hayati) merupakan sebuah konsep yang dapat digunakan untuk mewujudkan pertanian atau perkebunan (bioindustri) yang berkelanjutan. Layaknya kilang minyak, biorefinery menghasilkan turunan produk berupa senyawa kimia, energi, dan makanan dengan platform utama biomassa. Dengan kata lain, biorefinery merupakan sebuah proses berkelanjutan pengolahan biomassa menjadi spektrum bioproduk yang memiliki nilai pasar dan energi (International Energy Agency, 2008). Biomassa yang digunakan dapat berasal dari pertanian, peternakan, maupun perkebunan dan umumnya berbasis lignoselulosa.

Masalah yang dapat diselesaikan

Populasi manusia di dunia diprediksikan akan selalu meningkat. Hari ini, terdapat sekitar 7 milyar juta manusia di dunia. Angka tersebut akan terus bertambah hingga 9 milyar juta jiwa pada tahun 2045. Peningkatan populasi manusia akan menyebabkan peningkatan kebutuhan dasar meliputi makanan, serat, dan energi. Pemerintah Indonesia sendiri sudah menargetkan penggunaan 25% bioenergi pada kebijakan campuran energi Indonesia di tahun 2025. Lantas, Bagaimana biorefinery bisa bermanfaat bagi bioindustri?

Bioindustri dan Biorefinery

Bioindustri merupakan sektor yang dibutuhkan untuk menyokong kebutuhan dasar manusia. Saat ini, bioindustri masih lekat dengan sektor pertanian dan perkebunan. Melalui pertanian dan perkebunan, dihasilkan bioproduk-bioproduk seperti kayu untuk kebutuhan papan, sayuran dan daging untuk kebutuhan makanan, dan minyak nabati yang merupakan sumber utama biodiesel. Oleh karena itu, sektor-sektor ini sangat krusial untuk menyokong kebutuhan dasar manusia. Lalu, Bagaimana kita dapat mewujudkan sebuah bioindustri yang berkelanjutan dan kuat?

Bioindustri dan Biorefinery

Dengan penerapan skema biorefinery, bioindustri tidak hanya mampu menghasilkan satu turunan produk saja melainkan berbagai macam. Sebagai contoh, sebuah perkebunan kelapa sawit dapat mengolah limbah tandan kosongnya menjadi energi yang dapat digunakan kembali. Atau, sebuah perkebunan kopi dapat menghasilkan teh kulit kopi disamping menghasilkan biji kopi. Dengan begitu, sebuah bioindustri mampu berperan lebih baik kepada lingkungan dengan mengeliminasi potensi limbahnya (zero waste) serta menghasilkan bioproduk turunan yang bernilai.

Bioindustri harus mengadopsi skema biorefinery untuk mendukung kebutuhan dasar manusia di masa depan. Dengan begitu, kita dapat mewujudkan bioindustri yang ramah lingkungan, bioproduk bernilai, serta peningkatan ekonomi rural. Siapkah kita sebagai masyarakat di masa depan untuk mewujudkan bioindustri yang mandiri dengan konsep biorefinery? Mari Wujudkan!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *